Entrepreneurship & Creative Industries

KEWIRAUSAHAAN DAN INDUSTRI KREATIF

“Setiap bangsa punya pilihan: melahirkan atlet bermedali emas atau perenang yang tak pernah menyentuh air; melahirkan sarjana yang tahu ke mana langkah dibawa atau sekedar membawa ijazah.” (Rhenald Kasali, Kompas, 18/3/2014).

Dasar Pemikiran

Harus diakui memang, beberapa negara maju telah lebih dulu mengembangkan sektor ekonomi kreatif atau industri kreatif.  Pengembangan sektor tersebut bukan hanya dalam pengertian kuatnya dukungan dari pemerintah, tetapi yang menarik adalah munculnya kajian akademis di banyak perguruan tinggi terkemuka. Dengan kata lain, sektor ekonomi kreatif tidak hanya dilihat sebagai entitas bisnis maupun ekonomi, melainkan dilihat sebagai sebuah proses kreativitas dan inovasi manusia dalam memajukan peradaban.

Tentu pemahaman semacam ini tidak dapat dilepaskan dari konsep dan paradigma yang menjadi landasan dan kerangka pikir dari subyek tersebut, yakni konsep creative destruction, yang dikembangkan oleh Joseph Schumpeter (1883–1950).  Creative destruction adalah sebuah teori ekonomi tentang inovasi dan kemajuan.[1] Schumpeter menggunakan konsep tersebut untuk menjelaskan perkembangan kapitalisme Barat, di mana kemajuannya digerakkan dan ditransformasikan melalui  inovasi oleh para wirausaha (entrepreneurs) yang menjadi kekuatan jangka panjang dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi.[2] Dengan kata lain, mereka merusak tetapi dengan cara kreatif sehingga melahirkan inovasi. Contoh aktual adalah kemajuan di bidang ICT, teknologi usang diganti oleh teknologi baru, dan pasarlah di sini yang berbicara. Dan, demikianlah hal tersebut terus  terjadi.

Untuk pertama kalinya konsep industri kreatif  atau ekonomi kreatif muncul di Inggris. Departemen Kebudayaan, Media, dan Olah Raga pemerintah Inggris (DCMS)[3]  memetakan industri kreatif  ke dalam 13 sub-sektor, yakni: Periklanan, Arsitektur, Seni dan Pasar Barang Antik, Kerajinan Tangan, Desain, Fesyen, Software Hiburan Interaktif, Film dan Video, Musik, Seni Pertunjukan, Penerbitan, Software Layanan Komputer, TV dan Radio (DCMS 1998).[4] Pada tahun 2001, DCMC  mendefinisikan industri kreatif sebagai sektor industri di mana kreativitas, keterampilan, dan bakat individu merupakan potensi untuk mengembangkan kesejahteraan atau kekayaan dan kreasi kerja melalui antargenerasi dan kekayaan intelektual (DCMS 2001).

Belakangan ini industri kreatif atau ekonomi kreatif telah berkembang pada wilayah kajian ekonomi budaya (cultural economics), di mana dalam bidang ini kita memiliki kekayaan tradisi yang sangat beragam tetapi secara ekonomi belum dikelola dengan optimal. Padahal, sebagaimana di negara maju, kita juga memiliki kota-kota budaya dan perguruan tinggi seni sebagai salah satu penggerak ekonomi budaya tersebut. Walaupun disayangkan bahwa perkembangan di banyak kota kita cenderung untuk seragam. Padahal di beberapa negara maju bangunan arsitektur kota lama dari masa lalu justru dilestarikan bukan dibongkar, dan menjadi bagian integral dari penataan kota sehingga menciptakan suasana yang kondusif  bagi berkembangnya industri kreatif.

DCMS Inggris mengindentifikasi bahwa industri kreatif menyumbang sekitar 5 % pada pendapatan nasional dan lapangan pekerjaan, hal yang sama terjadi di Amerika serikat, Australia, Singapura, dan Uni Eropa.[5] Menurut konferensi PBB untuk perdagangan dan pembangunan (UNCTAD) 2004, secara global industri kreatif diprediksi mampu menyumbang GDP dunia lebih dari 7 % dengan nilai pertumbuhan rata-rata 10% per tahun. Lembaga PBB ini juga mengemukakan bahwa creativitas lebih dari sekedar pekerja dan capital bahkan teknologi, melainkan terutama merupakan kultur atau kebudayaan yang telah membumi pada setiap negeri. Tugas kita adalah bagaimana membina dan mengembangkan  sumber-sumber kreativitas tersebut  menjadi peluang dalam meningkatkan kesejahteraan negara-negara berkembang.[6]

Pemerintah Indonesia (Departemen Perdagangan RI, 2008) [7], telah mencanangkan rencana pengembangan ekonomi kreatif Indonesia  serta rencana pengembangan 14 subsektor industri kreatif  2009-2015. Di sana dikemukakan bahwa industri kreatif telah mampu memberikan sumbangan pada PDB nasional secara signifikan, yakni   rata-rata  6,28% di atas kontribusi (1) pengangkutan dan komunikasi; (2) bangunan, dan (3) listrik, gas, dan air bersih. Persentase kontribusi PDB subsektor industri kreatif  terhadap sektor industri kreatif pada tahun 2006 didominasi oleh subsektor (1) Fesyen (43, 71%) ; (2) Kerajinan (25,51%); dan (3) Periklanan (7,93%), di mana rata-rata kontribusi PDB subsektor industri kreatif  terhadap sektor industri kreatif pada tahun 2006 adalah sebesar 7,14%.

Masih menurut Kementerian Perdagangan RI, untuk periode yang sama, rata-rata jumlah tenaga kerja yang diserap oleh sektor industri kreatif relatif besar, yakni 5,79 %  atau sekitar 5,4 juta pekerja. Subsektor industri kreatif yang berkontribusi di atas rata-rata dalam penyerapan tenaga kerja adalah subsektor fesyen dan kerajinan, masing-masing berkontribusi sebesar 2,6 juta pekerja dan 1,5 juta pekerja. Sedangkan dari  total nilai ekspor, untuk tahun 2006, industri kreatif kita merupakan contributor ke-4 terbesar, yakni 81,43 triliun rupiah atau sebesar 9,13%.

Tiga belas sub-sektor industri yang dikategorikan sebagai industri kreatif tersebut, hampir seluruhnya juga terdapat, dan untuk sebagian telah  berkembang di negara kita. Bahkan, meskipun harus melalui penelitian terlebih dahulu, hampir dapat dipastikan sektor ekonomi kreatif  justru telah hidup dan berkembang pada basis perekonomian masyarakat (UMKM). Tanpa bermaksud mengurangi wibawa akademik yang seringkali hanya berhenti pada laporan penelitian maupun jurnal ilmiah, pengembangan ekonomi kreatif atau industri kreatif tidak perlu mencari kepuasan ilmiah semacam itu, kecuali untuk tujuan penulisan disertasi doktor. Tetapi, menurut hemat kami, justru kajian tersebut harus diukur dari sejauh mana penelitian tersebut dapat diaplikasikan sehingga berkontribusi pada pengembangan ekonomi kreatif  secara konkret (terutama pada UMKM).

Kami menduga banyak generasi muda saat ini, termasuk mahasiswa,  yang berbakat di bidang ekonomi kreatif. Itulah mengapa FEB-UHAMKA mulai membuka konsentrasi Manajemen Bisnis & Kewirausahaan. Sebuah upaya membangun jembatan antara teori dan praktik. Harapannya agar mahasiswa yang berminat dan  berbakat di bidang kewirausahaan, dengan adanya Kajian Terapan tentang Ekonomi Kreatif & UMKM serta  Kewirausahaan Sosial, mahasiswa akan memperoleh manfaat yang optimal. Sekali lagi, tujuan dan parameternya  bukan semata-mata untuk mencapai kepuasan ilmiah seperti menulis di jurnal terakreditasi, melainkan terutama bagaimana mampu menjawab keterbelakangan dengan menumbuhkan kesadaran:  belajar untuk diamalkan dan meneliti untuk diaplikasikan.   

 


[1] http://en.wikipedia.org/wiki/Creative_destruction

[2] http://en.wikipedia.org/wiki/Joseph_Schumpeter

[3] DCMS (Departement of Culture, Media and Sport, UK Goverment), “Creative Industries Mapping Document” (London: HMSO, 1998).

[4] Peter Higgs, “Creative Industries Mapping: Where have we come from and where are we going?” (Creative Industries Journal, Vol 1, No. 1, 2000).

[5] Terry Flew, “Creative Commons and Creative Industries” (Media and Art Law Review, Vol. 10, No. 4, December

  2005).

[6] “Creative Industries and Development”, United Nations Conference on Trade and Development, Eleventh session. Sao Paolo, 13-18 June 2004.

[7] Rencana Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2009-2015 (Departemen Perdagangan RI, 2008).