Start-Up Story

startup

Sukmariyah, Tukang Jahit Perintis Koperasi bagi UMKM

sukmariah

JAKARTA, KOMPAS.com — Kondisi perkampungan yang agak terbelakang, dan banyak warga yang menjadi penganggur, membuat Sukmariyah rela berjalan berkeliling kampung untuk menjajakan programnya.

Keinginannya sederhana, ingin meningkatkan pendapatan warga dan mengusahakan agar masyarakat bisa mengakses dana perbankan. Sukmariyah, ibu rumah tangga berusia 32 tahun, tinggal di kampung Rancagede Kaler, Desa Munjul, Kecamatan Solear, Tangerang.

Meski lokasinya tidak jauh dari ibu kota Jakarta, ternyata banyak masyarakat di sana yang masih berada di bawah garis kemiskinan. Banyak wanita di kampungnya yang terpaksa nikah muda. Bahkan, kebanyakan warga di kampung tersebut hanya lulusan sekolah dasar (SD).

Kondisi inilah yang menggerakkan Sukmariyah untuk bisa memberdayakan ibu rumah tangga di kampungnya sekaligus meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitarnya.

Tukang jahit Sukmariyah awalnya hanya berprofesi sebagai tukang jahit konveksi, baik menjahit seragam sekolah, seragam PNS, hingga menjahit sepatu hasil pesanan pengusaha lain. Usaha ini sudah dilakoninya sejak tahun 2004. Usaha tersebut pun kian membesar.

Namun, usahanya masih bersifat rumahan. Usaha dikerjakan sendiri ataupun mempekerjakan orang lain untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Seiring berjalannya waktu, warga di sekitar rumah Sukmariyah iri dan ingin belajar usaha konveksi itu.

“Awalnya banyak warga yang pinjam duit ke saya, sedikit demi sedikit, untuk usaha konveksi. Saya pinjami seadanya karena saya ingin membantu,” kata Sukmariyah.

Namun karena niatnya tulus ingin membantu, usaha konveksi milik Sukmariyah ini terus berkembang pesat. Kegiatannya meminjamkan uang ke tetangga juga terus dilakoni.

Bagi Sukma, panggilan akrabnya, kesuksesan ini juga harus ditularkan ke orang lain sehingga bisa memenuhi keinginannya sejak lama, yaitu bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar rumahnya.

Membentuk koperasi

Awalnya, ide usaha untuk membentuk koperasi tersebut hanya sebuah kebetulan. Sebab, setiap hari Sukma sudah terbiasa meminjamkan uang ke warga sekitar, baik untuk kehidupan sehari-hari, maupun untuk mengembangkan usaha konveksi masing-masing.

“Masyarakat itu kalau disuruh ke bank rasanya berat sekali; apalagi kalau sudah ditanya, jaminannya apa, usahanya apa. Orang jadi takut duluan mau pinjam dana. Padahal, bunga pinjam dana berapa pun, itu akan dibayar, asal bisa pinjam duit cepat,” kenangnya.

Dengan kondisi itu, wanita lulusan S-1 Ekonomi Manajemen UHAMKA Jakarta tersebut lantas memberanikan diri membuat koperasi kecil-kecilan, meski belum dilembagakan. Keinginannya cuma satu, ingin memberi akses dana perbankan ke masyarakat dengan cepat.

Alhasil, Sukma kemudian ikut pelatihan, menjadi tenaga magang di koperasi hingga tanya-tanya ke dinas yang berkaitan dengan usaha kecil dan fakir miskin.

Pada Maret 2010, Sukma mendapat informasi dari Dinas Sosial Kabupaten Tangerang bahwa ada program dari Kementerian Sosial untuk fakir miskin dalam bentuk Kelompok Usaha Bersama (KuBe).

Sukma pun mencari informasi cara mendapatkan dana bantuan dari program tersebut. Lantas Sukma mengajukan proposal bantuan program KuBe ke Kementerian Sosial. Gayung pun bersambut, Sukma berhasil mendapatkan bantuan sebesar Rp 30 juta.

“Dana tersebut saya kelola dengan membeli 8 mesin jahit senilai 15 juta. Sisa dananya saya gulirkan untuk membantu usaha-usaha kecil masyarakat seperti toko kelontong, tukang sayur hingga jualan nasi uduk,” tambahnya.

Jadi pemberi kredit

Seiring berjalannya waktu, antusiasme masyarakat untuk terus meminjam dana ke Sukma semakin besar. Oleh karenanya, pada 20 April 2011, Sukma dan suaminya mulai melembagakan koperasi kecil-kecilan tersebut dengan mendirikan koperasi syariah Baitul Maal WaTamwil (BMT) Mitra Mandiri Sejahtera.

Kegiatan koperasi tersebut adalah simpan pinjam hingga binaan kursus terampil secara gratis kepada warga agar memiliki bekal dalam menjalankan usahanya kelak. Sukma juga memberikan pelatihan pembekalan ilmu menjahit hingga pembuatan sepatu.

Hingga saat ini, koperasi tersebut sudah menjangkau masyarakat di tiga kecamatan di sekitar Solear. Sukma kini terus gencar mempromosikan koperasinya agar terus bisa melayani warga.

Jumlah orang yang merasakan manfaat dari pemberdayaan masyarakat tersebut antara lain 100 pengusaha kecil, 190 fakir miskin, 30 penjahit konveksi, 13 anak telantar yang mengikuti pelatihan keterampilan, dan 20 ibu yang mengikuti kursus menjahit gratis.

“Mimpi saya itu sederhana, nantinya bagaimana setiap kecamatan ini harus memiliki koperasi. Saya tahu orang banyak antre ke bank untuk pinjam duit. Tapi kalau syaratnya ribet, mereka yang tidak punya jaminan ini jadi bingung. Padahal yang dipinjam dananya cuma Rp 100.000-Rp 500.000. Paling besar cuma Rp 2 juta,” ujarnya.

Agar koperasinya ini bisa berjalan, Sukma menggandeng perbankan besar untuk melakukan penyaluran dana. Harapannya, masyarakat tidak mampu yang memerlukan dana taktis dan tidak memiliki jaminan ini bisa keluar dari masalahnya.

Atas pemberdayaan masyarakat ini, Sukmariyah berhasil memperoleh Danamon Entrepreneur Awards 2013. Ia mengaku tak sengaja ikut kompetisi wirausaha tersebut.

“Saya ini didaftarkan oleh relawan saya yang namanya Yunus. Kita memang bergerak bersama-sama untuk mewujudkan kesejahteraan keluarga. Saya pikir, saya tidak melakukan sesuatu yang luar biasa dan bagi saya ini seperti mimpi. Sebab, mimpi saya juga sederhana. Ternyata ada perhatian dari pemerintah,” kenangnya.

Pages 1 2 3 4 5 6