Belajar Daring, Kecepatan Internet masih miring!

Oleh: Fikri Hidayat

Editor: Lambang Wiji Imantoro

Jika sebelumnya pendidikan di Indonesia dilaksanakan secara langsung atau tatap muka. Namun akibat covid19, kegiatan tersebut tidak dimungkinkan lagi untuk dilaksanakan. Hal ini juga menimbang berbagai akibat yang mungkin saja ditimbulkan. Apabila pemerintah tetap memaksakan proses pembelajaran dilakukan seperti biasanya, dikhawatirkan banyak siswa yang nantinya terinfeksi Covid19. Karena pastinya pembelajaran tatap muka akan menyulitkan peserta didik dan para pengajar untuk mematuhi protokol kesehatan.

Situasi yang sebelumnya tidak diprediksi akan terjadi ini, mengakibatkan minimnya upaya dan solusi dalam menghadapi Covid19 ini. Tak terkecuali pada kegiatan persekolahan, sekolah daring atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dipilih menjadi solusinya. Sistem pembelajaran daring atau online yang sangat bergantung pada kelancaran sinyal seluler dan koneksi internet. Ternyata tidak diiringi dengan sarana dan prasarana yang memadai. Seperti data yang dipublish oleh Badan Pusat Statistik (BPS); terdapat 21.597 desa/kelurahan di Indonesia dengan tingkat kekuatan sinyal telepon seluler yang lambat.

The next web (2019), Hootsuite merilis data tentang aktivitas internet yang menyajikan data kecepatan internet, merilis rata-rata kecepatan internet kabel di Indonesia adalah 13,79 Mbps dan kecepatan rata-rata internet mobile adalah 9,82 Mbps. Ini terpaut jauh jika dibandingkan dengan negara tetangga, Singapura. Tercatat kecepatan rata-rata internet kabel adalah 161,50 Mbps dan kecepatan internet mobile adalah 51,92 Mbps.

Kedua data tersebut tentu dapat menggambarkan, betapa tertinggalnya bangsa Indonesia dalam hal mewujudkan ketersediaan prasana bagi warganya. Hingga pada akhirnya tidak sedikit ditemukan keluhan dari pelajar dan mahasiswa, bahwasanya ketersedian sarana dan prasana internet di beberapa daerah belum memadai. Sehingga menghambat mereka untuk melaksanakan Program Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) .

Bagi kalangan siswa dan mahasiswa tentunya kesulitan akses internet dan sinyal seluler adalah masalah serius. Saat ini internet merupakan sebuah kebutuhan primer bagi mereka. Sebab semua proses pendidikan sudah berubah menjadi serba daring. Mulai dari proses absen, pemberian materi hingga pengumpulan tugas, semuanya telah dialihkan melalui media online atau daring. Maka tak heran jika internet dan sinyal seluler yang lancar sebagai sesuatu yang prioritas dan urgen saat ini.

Namun, jika dinilai dari perspektif yang berbeda. Pandemi Covid19 ini dapat dijadikan sebagai bentuk kritik terhadap pemerintah.Jika biasanya kritik disampaikan dalam bentuk cuitan, tagar atau bahkan demonstrasi. Tetapi hari ini kritik itu seakan hadir secara langsung melalui kejadian alam, bukan lagi diutarakan oleh manusia.

Disamping itu, pendidikan merupakan suatu investasi penting bagi suatu negara. Di satu sisi pendidikan memang butuh waktu dan biaya yang besar dalam menjalankannya. Namun setelah pendidikan diperoleh, masyarakat dan negara tentunya akan mendapatkan manfaat dari peningkatan taraf pendidikan.

Selama ini pemerintah begitu besar menaruh harapan, agar dunia pendidikan Indonesia dapat maju. Tetapi untuk mencapai harapan tersebut, tentunya tidak mudah. Prinsip ekonomi, “Usaha yang sekecil-kecilnya, dengan untung yang sebesar-besarnya”. Jelas tentunya tidak bisa diterapkan ke dalam dunia pendidikan. Selain dunia pendidikan bukanlah ladang bisnis. Tetapi sudah kewajiban pemerintah tentunya dalam menyediakan pendidikan yang memadai bagi warganya. Disamping fasilitas sarana dan prasarana berupa gedung sekolah serta pengajar yang kompeten, pendidikan juga harus didukung dengan prasarana teknologi yang memadai.

Memang tak satupun pihak yang menginginkan situasi yang terjadi seperti saat sekarang ini. Tetapi bagaimanapun tentunya masyarakat sangat berharap, agar pemerintah dapat hadir dan turun tangan mengatasi masalah kesulitan internet di berbagai daerah.

 

 

Tinggalkan Balasan

WhatsApp INFO LENGKAP