Kecerdasan beradaptasi dalam menyambut Indonesia baru.

Oleh: Lambang Wiji Imantoro

Editor: Lambang Wiji

 

Peringatan hari kemerdekaan RI ke-75 ditahun ini terasa begitu berbeda,dimana  eforia kemerdekaan harus diredam, suka cita dirgahayu tak bisa ditumpahkan ke jalan jalan akibat merebaknya pandemi global Covid-19 yang turut menyasar bumi pertiwi belakagan ini.

Pada peringatan kali ini, selain perlunya kita menginat kembali jalannya roda sejarah, sekaligus merenungi esensi kemerdekaan bangsa ini yang teleh berumur 75 tahun, tentunya haruslah terdapat perenungan mendalam tentang bagaimana kinerja kita dalam menjalankan amanah proklamasi “melindungi segenap bangsa indonesia” yang belakangan ini amanah itu terasa asing pengejawantahannya dalam keseharian kita.

Secara tidak langsung, Pandemi ini telah membuka mata kita, bahwa terdapat begitu banyak problematika dalam hal tata kelola kehidupan yang harus diperbaiki. Praktis sinergitas dan efektivitas mutlak diperlukan sebagai sarana untuk memitigasi dampak problematika ini.

Perlunya pengelolaan terhadap sumber daya khususnya yang berkaitan dengan hal social, ekonomi dan politik haruslah kembali ditumbuhkan dan dikelola dengan baik. Sinergitas yang erat antara penyelenggara negara, dunia usaha, ormas, dan masyrakat secara umum pelulah dibentuk dalam ruang tata kelola yang baik (good governance). secara tidak langsung perlulah adanya mereka yang berani melakukan otokritik secara jujur guna perbaikan dimasa ini dan mendatang.

Pada masa ini, seluruh bangsa diberbagai penjuru dunia tengah sibuk merancang dan menentukan strategi untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 beserta dampak yang ditimbulkan. Tentunya ini tak hanya terkait dengan keselamatan bangsa, namun juga sebagai ajang bagi kita untuk beradaptasi diera baru saat ini. Dari sinilah makna kecerdasan yang sebenarnya, yaitu dalam konstelasi kehidupan baru yang juga turut menjadi parameter ketangguhan kita sebagai sebuah bangsa.

 

Kompetisi kecerdasan.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Jhon Koetsier untuk Forbes, mengukur tingkat keseipasiagaan suatu negara dalam menghadi situasi darurat Covid-19. hasilnya dari seratus negara yang diteliti, hasilnya indonesia hanya menempati di peringkat ke 97 dan hanya lebih baik dari Kamboja, Laos, dan Bahama. Tentunya hasil ini menjadi indikasi betapa lemahnya negara kita dalam hal ketangguhan dan kecerdasan berdaptasi dengan kehidupan baru ini.

Agaknya tidak berebihan bila kita kembali mengingat perkataan Stephen Hawking yang mengatakan bahwa “intelligence is the ability to adapt to change (kecerdasan adalah kemampuan beradaptasi dengan perubahan)” hal tersebut relevan rasanya bila melihat realita hari ini sebagai tolak ukur “kecerdasan” setiap bangsa dalam mengelola kehidupan bangsanya.

Tiap negara tentu memilki cara tersendiri dalam memutus penyebaran dan dampak yang ditimbulkan akibat Covid-19 ini, diperkirakan negara negara berstatus negara maju yang telah makmur secara pemerataan ekonomi dan unggul secara pengelolaan fasilitas kesehatan dirasa akan lebih mudah dalam berdaptasi, namun realita dilapangan hal itu bukan menjadi penentu utama.

Pada akhirnya kecekatan dan ketepatan dalam mengambil kebijakan, efektifitas pengelolaan sumber daya, serta sinergitas yang kompak, terutama kedisiplinan masyrakatlah yang lebih menjadi faktor penentu tangguh atau tidaknya suatu bangsa dalam menghadapi kehidupan baru ini. Secara tidak langsung Covid-19 ini terasa lebih tampak sebagai alat uji, yang diuji ialah keampuan, sikap, dan kinerja bangsa kita dalam memitigasi dampak Covid19 ini.

Jika kita gagal mengatasi ujian ini ini dengan baik, maka angka korban yang berjatuhan akan semakin meningkat, dan lambat laun hancurlah nama kita sebagai sebuah bangsa.

 

 

Tinggalkan Balasan

WhatsApp INFO LENGKAP