Turun ke Ciracas: Menjaga Idealisme, Menebar Kebermanfaatan

Perkenalkan, saya Firmansyah, mahasiswa semester 7 Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA). Izinkan saya menceritakan pengalaman saya saat melaksanakan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) bersama Kelompok 63 di Ciracas, Jakarta Timur. Simak kisah saya.ADVERTISEMENT—————–“Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.”Ya, begitulah kata Tan Malaka. Aku tidak begitu paham definisi pemuda bagi Tan, tetapi bagiku mahasiswa termasuk ke dalam golongan pemuda itu. Golongan yang wajib memelihara idealismenya.Idealisme apa yang harus kupegang teguh sebagai mahasiswa? Keyakinan untuk bermanfaat kepada sesama manusia. Sebagaimana yang aku percaya dalam agamaku, Rasulullah saw bersabda, “Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”.Kampusku, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA), alhamdulillah memfasilitasi itu lewat program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM). Aku bersama 20 orang temanku yang tergabung ke dalam Kelompok 63 mengabdi di RW 10, Kampung Ciracas, Jakarta Timur.

Banner Kelompok 63. Foto: Dok. Pribadi

PKM adalah kesempatan bagi kami untuk menuntaskan Tri Dharma Perguruan Tinggi: Pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Selain itu, kegiatan ini telah disesuaikan dengan capaian SDGs (Sustainable Development Goals) di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan terdaftar di PRME (Principles for Responsible Management Education).ADVERTISEMENTKalau kata dekanku, Pak Nuryadi, PKM memiliki perspektif sosial-humanistik. “Sosial yang dimaksud yakni berkaitan dengan kebermanfaatan langsung atas dirinya bagi masyarakat luas apabila mampu menggerakan serta mengamalkan ilmu yang diperolehnya selama di bangku kuliah,” ujarnya.Sedangkan humanistik, mungkin lebih ke bagaimana ilmu yang kami dapat di bangku kuliah bisa memecahkan persoalan masyarakat. “Mahasiswa sebagai pelaksana memiliki keutuhan secara kemanusiaan untuk berkolaborasi dengan masyarakat menyusuri persoalan yang sedang terjadi,” kata Pak Nuryadi.Sekilas, kamu mungkin berpikir bahwa ini hanya tugas kuliah, bukan kesadaran pribadi kami. Tapi Bung, ketahuilah, kami semua amat antusias menjalani ini semua. Mohon maaf, kami tidak seperti mahasiswa kebanyakan yang punya banyak waktu luang di luar jam kuliah.ADVERTISEMENTSelain kuliah, kami juga karyawan. Penghasilan bulanan kami pas-pasan. Kami tak punya banyak waktu luang, pula tak punya banyak uang. Jadi, kami memanfaatkan momen yang ada sebagai peluang.

Salah satu momen usaha penggalangan dana. Foto: Dok. Pribadi

Tiga minggu lamanya, aku bersama teman-temanku berjibaku mencari dana untuk menyukseskan program ini. Bergelut dengan peluh, kami enggan mengeluh. Sebab, mahasiswa sejatinya harus kreatif dan mandiri mencari dana sendiri. Mulai dari mengumpulkan baju bekas untuk dijual, menggalang donasi, mengumpulkan sumbangan, hingga mengamen kami lakoni.Kami tidak peduli dengan mata-mata yang memandang kami dengan sinis. Lha wong niatnya baik. Bukankah, perbuatan baik sebesar biji zarah sekalipun akan tetap dihitung oleh malaikat? Maka dari itu, kami memanfaatkan momen ini sebaik mungkin. Total, selama 3 minggu menggalang dana itu, terkumpul Rp 11 juta. Alhamdulillah.ADVERTISEMENT***

Koordinasi dengan Pak RW. Foto: Dok. Pribadi

7 Agustus 2019. Kami tiba di Kampung Ciracas untuk pertama kalinya. Di tengah riuhnya perkotaan, Kampung Ciracas hadir menyempil di sudut Jakarta, menjadi tempat bernaung kaum yang kurang beruntung. Well, enggak surem-surem amat, sih, toh mereka tetap berpenghasilan, sebagian dari mereka jadi pedagang di pasar dekat kampung sebagai mata pencaharian. Tapi tetap saja, jauh dari kata mewah.Kami melihat anak-anak kecil berlarian di gang-gang sempit yang ada di sana. Mengejar cita-cita yang besar, dengan khayal seluas cakrawala. Mereka boleh saja tinggal di rumah-rumah yang berada di pinggir kali, tapi aku berharap mimpi besar mereka tidak mati.Setidaknya, kurang lebih tiga minggu, hingga 24 Agustus 2019, aku dan rekan-rekanku mengabdi di sana. Ada banyak kegiatan yang kami lakukan di sana, salah satunya adalah pengembangan penghijauan dengan tanaman herbal, dalam hal ini adalah sereh, jahe merah, dan kencur.

Lahan untuk tanaman obat. Foto: Dok. Pribadi

Jadi, salah satu ilmu kuliah yang kuterapkan kepada masyarakat di sana adalah ekonomi kreatif. Kami bersama warga membuat taman yang isinya adalah tanaman-tanaman obat yang tadi disebutkan. Pak RW mengatakan kepada kami bahwa sudah lama warga punya ide untuk membuat taman tanaman obat, tapi terbentur biaya.

Tanaman obat ini bisa jadi penghasilan tambahan bagi warga. Foto: Dok. Pribadi

Kami di sana, membantu warga merealisasikan mimpi itu, agar warga bisa berdikari dan hidup mandiri. Bercocok tanaman obat secara swadaya di lahan seadanya. Bayangkan, ada 700 polybag terkumpul untuk mengembangbiakkan tanaman obat. Kami yang juga beli sendiri bibitnya.

Polybag tanaman obat. Foto: Dok. Pribadi

Nantinya, hasil panen tanaman bisa dijual untuk menjaga dapur tetap mengebul. Selain itu, menciptakan penghijauan di tengah polusi Jakarta adalah poin plus lainnya.ADVERTISEMENTSelain itu, kami di sana juga membangun saung. Saung ini bersifat serba guna: Bisa untuk penyuluhan anti-narkoba, senam pagi, dan kegiatan warga lainnya.

Kerja bakti membersihkan lahan untuk saung. Foto: Dok. Pribadi
Pembuatan pagar untuk saung. Foto: Dok. Pribadi
Bersih-bersih lahan untuk pembuatan saung. Foto: Dok. Pribadi

Agar saung itu semakin tampak cantik, kami juga membuatkan mural ban. Ya, biar instagramable.

Pembuatan mural ban untuk hiasan seni. Foto: Dok. Pribadi
Mural ban yang sudah jadi. Foto: Dok. Pribadi
Taman Hamka Bestari. Taman sekaligus saung serba guna untuk warga. Foto: Dok. Pribadi

Kami juga membuatkan lahan parkir untuk warga. Nantinya, warga bisa mendapat pemasukan juga dari sana. Sebab, di dekat kampung itu ada banyak tempat makan, kalau malam ada pasar malam, dan taman tanaman obat juga dibuka untuk umum.Dan tak lupa, di bulan kemerdekaan, kami juga berpartisipasi dalam lomba HUT ke-74 RI. Kami membantu warga menjadi bagian dari panitia lomba Agustus-an hingga mengecat dan mendekorasi RW 10 Ciracas dengan vibe perayaan kemerdekaan. Kami juga mensponsori hadiah berbagai lomba yang umumnya dimainkan oleh bocah-bocah cilik.

Menghias gapura. Foto: Dok. Pribadi
Lomba makan kerupuk. Foto: Dok. Pribadi
Lomba HUT RI. Foto: Dok. Pribadi
Juara-juara cilik. Foto: Dok. Pribadi

Menjadi bermanfaat adalah harga mati. Entah, apakah idealisme tersebut dapat terus kupegang teguh sampai mati atau tidak. ADVERTISEMENTNamun setidaknya, aku dan teman-temanku sudah pernah melakukan aksi nyata ini, menjadi kenangan yang membekas di memori hingga ajal menghampiri. Semoga masih ada kesempatan untuk berkontribusi lebih luas lagi, lain kali.

Kelompok 63. Foto: Dok. Pribadi

Berikut video kegiatan kami.

Sumber : Kumparan.com

Tinggalkan Balasan

WhatsApp chat